Setiap
daerah pastinya memiliki legenda atau sejarahnya masing-masing, termasuk salah
satu daerah yaitu Kalimantan Tengah. Di Kalimantan Tengah sendiri ada banyak
sekali Sejarah atau Legenda didalamnya. Berikut kami akan memaparkan beberapa
Legenda atau Cerita Rakyat yang ada di Kalimantan Tengah diantaranya :
- Legenda Petak Malai (Baraoi)
- Legenda Sanaman Mantikei (Nusa Kuluk Riam Habambang)
- Legenda Batu Banama/Batu Mandi (Kasongan)
- Legenda Riam Mangkikit (Sungai Katingan)
- Legenda Batu Tumbung Dan Ingei (Baraoi)
- Legenda Pulau Malan (Tumbang Banjang)
LEGENDA PETAK
MALAI (BARAOI)
Legenda
ini berasal dari daerah kabupaten Murung Raya atau Puruk Cahu tepatnya didaerah
penduduk atau desa Tumbang Topus kecamatan sekarang untuk Murung dan di daerah
penduduk kampung Talung Nyaling. Konon ceritanya tanah malai tolung lingu ini
asal mulanya ada di tanah khayangan atau Danum Songiang. Ditanah khayangan
telah hidup dua orang perempuan yang sangat cantik yang bernama Bura dan
Santaki. ceritanya pada suatu hari, kedua perempuan cantik ini turun kedunia
atau Anak Danum Kolunon untuk melihat dan mengamat-amati keadaan yang di Anak
Danum Kolunon. Ketika sedang berjalan, kedua perempuan cantik ini melihat bahwa
didunia atau Anak Danum Kolunon banyak sekali tempat-temat yang sepi tidak ada
sama sekali penghununya. Sedang ketika kedua perempuan itu berjalan lagi ia
melihat bahwa ada sekelompok manusia atau kolunon yang mendiami tempat
tersebut. Dalam hati kedua perempuan cantik itu bertanya kenapa di dunia
manusia banyak sekali tempat-tempat sunyi dan sepi tidak ada penghuninya. Maka,
bersedihlah hati kedua perempuan yang bernama Bura dan Santaki itu. Ketika
kembali lagi ke tanah khayangan, siang dan malam kedua perempuan itu
merenungkan apa yang harus mereka perbuat supaya didunia tidak ada lagi tempat
sepi yang tidak ada penghuninya. Setelah berhari-hari kedua perempuan cantik
itu memutuskan untuk menurunkan Tana Malai Tolung Lingu atau Petak Malai Buluh
Merindu kedunia atau Anak Danum Kolunon sebagai Songkolasan-Songkolimo Anak
Kolunon di muka bumi atau Pindah Ondou. Konon ceritanya Tana Malai Tolung Lingu
adalah benda keramat milik manusia di tanah Khayangan.
LEGENDA SANAMAN
MANTIKEI (NUSA KULUK RIAM HABAMBANG)
Dahulu
kala didusun Kaleka Nusa Kuluk Riam Habambang, sebelah kiri mudik sungai Samba
hiduplah satu keluarga petani. Petani itu mempunyai seorang anak laki-laki
bernama Tinjau. Pada suatu hari Tinjau pergi untuk mengantarkan makanan kepada
ibu bapaknya diladang. Ditengah jalan, sekonyong-konyong Tijau melihat seorang
yang mirip ayahnya. Orang itu lalu mengajaknya berjalan kesuatu arah. Tinjau
menurut saja, karna dirasanya tak salah mengikuti ayahnya sendiri mereka berdua
berjalan terus hingga tiba pada sebuah jalan yang lebar dan bersih.
Akhirnya
sampai di sebuah betang. Didalamnya banyak orang berkumpul. Mereka lalu naik ke
dalam betang itu. Seorang tetua dari sekalian itu berkata kepada orang yang
mirip ayah Tinjau : "Dari mana kau dapat anak manusia ini ? bagaiman
diketahuinya rahasia pekerjaan kita ini tak boleh dilihat mahluk lain, apalagi
manusia." "anak ini kutemukan diujung jalan rumahku, sebelum mencapai
jalan desa kita ini. Tiba-tiba saja ia terlihat olehku dan ia pun melihatku
pula. Untunglah sempat ku ubah wajahku, menyamar jadi ayahnya. Mungkin ia
mata-mata manusia yang ditugaskan mengintai pekerjaan kita. Aku bergegas hingga
kubawa saja ia kemari. Terserah ketua mengambil tindakan padanya." Jawab
orang yang mengajak Tinjau tadi.
Ketua
odari orang halus itu berkata lagi: "anak manusia ini jangan dibiarkan
bebas begitu saja. nanti ia lari diceritakannya perihal segal perbuatan kita.
Coba tutup ia dengan gerantung (gong) besar." Tinjau lalu disekap dibawah
sebuah gerantung. Ia menyadari bahwa dirinya diculik mahlik halus. Untung saja
papan lantai dibawah gerantung tidak rata. Kalau tidak ia bisa mati lemas kehabisan
napas setelah Tinjau disekap mulailah itu mereka berunding mengatur pembagian
kerja pada esok hari yakni membuat peralatan melebur batu menjadi sanaman
mantikei (besi sejati atau murni).
Orang
tuanya heran mengapa hari ini Tinjau tidak datang mengantar makanan seperti
biasanya. Merasa lapar keduanya terpaksa pulang kerumah. Ternyata Tinjau tidak
ada disana. Seluruh keluarga dan orang sekampung turut mencari kesana kemari.
Tetapi, semuanya sia-sia saja. Tinjau hilang bagai ditelan bumi. Bermacam dugaan
mereka lontarkan.
“Apakah kau lihat segala
perbuatan kami ?" tanya ketua mereka. Memang Tinjau seorang anak yang
cerdik, ia lalu menyahut : "iya saya lihat semua perbuatan kalian dengan
jelas" Ketua mahluk halus itu berkata "kalau begitu coba tutup dia dengan
rakung". Tinjau lalu ditutup mereka dengan rakung. "oh" Kata
tinjau, "jangan tutup aku dengan rakung sebab dapat kulihat perbuatan
kalian." "kalau begitu coba dengan pangalau agar ia tidak melihat
pekerjaan kita", kata ketua hantu itu.
Tijau berteriak : "ampun !
janganlah kalian tutup aku dengan pangalau ini. Aku menjadi buta dan tuli sama
sekali," mahluk-mahluk halus itu tertawa terbahak-bahak gembira. sebab
Tinjau tak dapat melihat segala perbuatan mereka. Alat yang mereka buat itu
adalah alat sebagai mana yang masih dipergunakan pandai besi tradisional hingga
kini di daerah kalimantan tengah.
Menurut
pendapat mereka untuk mempercepat peleburan batu menjadi besi itu sekeliling
baknya dipajangkan tiga buah patung dari tanah liat dengan bentuk tertentu.
Kepala berbentuk ikan, ekornya harus berbentuk kerbau. Kalau kepalanya bunglon,
ekornya harus berbentuk ikan serta bila kepalanya babi ekornya mesti berbentuk
buaya.
Dari
percakapan mereka terdapat beberapa persyaratan dalam pekerjaan itu antara lain
tidak boleh dilihat atau ditegur kaum wanita, berolok-olok atau berbicara kotor
dan bertengkar. Selain itu, harus dekat dengan air dan ada dahan kayu yang
sedang tingginya. Dua syarat terakhir adalah erat kaitannya dengan teknis
peralatan. Mengenai jenis batuannya adalah batuan yang ada didalam tanah. Tiga
hari tiga malam Tinjau memperhatikan kerja mereka itu mulai dari memebuat
peralatannya, melebur batuan menjadi besi serta menempanya menjadi senjata dan
peralatan. Saking sibuknya mereka bekerja, sampai lupa kepada Tinjau. Hingga
dapatlah ia melepaskan dirinya pulang kerumah. Gembiralah keluarganya serta
seisi kampung dengan kepulangan Tinjau. Mereka tercengang mendengar ceritanya,
apalagi menyangkut pengolahan besi pada masa itu oleh orang. Beberapa tahun kemudian
Tinjau mengajak keluarganya mengerjakan Sanaman Mantikei seperti dilihatnya
dikampung mahluk halus dahulu. Mereka mengerjakannya lebih baik sebab
peralatannya cukup sempurna dengan hasil yang memuaskan pula.
Bekas
pengolahan Sanaman Mantikei disebelah kanan mudik sungai mantikei, sungai
manten, dan kaleka nusa kuluk riam habambang. Sanaman mantikei memiliki sifat
yang lebih lunak dan tajam senjata yang dibuat dari bahan ini mudah
dibengkokkan. Batuan yang mengandung sanaman mantikei hanya dijumpai disungai
mantikei, mencarinya dengan jalan digali dari dalam tanah. Karna terkenalnya
besi ini, hingga sekarang daerah sepanjang sungai samba dinamakan kecamatan
sanaman mantikei.
LEGENDA BATU
BANAMA/BATU MANDI (KASONGAN)
Pada
masa lampau pulau borneo merupakan bagian dari lautan dan masa lalu daratannya
hanya sedikit yaitu daerah tengah dan daerah timur pulau borneo pulau sekarang
saat itu bukit tangkiling termasuk wilayah daratan sehingga disitu menjadi
sebuah kampung di kampung itu hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya
suaminya sudah meninggal ibu ini dikenal dengan bawi kuwu(seörang wanita yang
cantik dan awet muda)disuatu hari ibu sedang memasak nasi goreng yang digoreng
tanpa minyak (bari sanga)saat si ibu sedang memasak ternyata si anak ini terus
mendesak ibunya supaya cepat dihidangkan karena si anak merasa lapar,ibu
mencoba bersabar tetapi si anak malah semakin merengek rengek tidak karuan maka
habislah kesabaran si ibu ini tanpa sengaja ia pun mengayunkan solet(suruk:alat
buat menggoreng)kebagian kepala anaknya sesaat setelah dia tersadar ternyata
dikepala anaknya telah mengalir darah segar sehingga si anak ini menjadi panik
dan marah. Dalam sekejap si anak berlari keluar dari rumah dia merasa ibunya
tidak lagi menyayangi dirinya, ibunya berusaha mengejar tetapi si anak sehingga
berlari ke sebuah dermaga. Didermaga itu terdapat sebuah kapal yang sedang
singgah, kapal ini berasal dari negri cina sedang singgah untuk menjual keramik
di kampung itu dan si anak bersembunyi dibagian bawah kapal itu. Ibunya
berusaha mencari ke suluruh penjuru kampung tapi tidak dapat menemukan anaknya.
Dia menyesali dirinya karena telah memukul kepala anaknya, dia pun merenungi
perbuatannya itu. Lalu tak lama setelah bongkar muat didermaga diselesaikan
maka kapal cina itu akhirnya melepas jauh dan kembali berlayar kenegri cina.
Singkat cerita sianak yang tadi bersembunyi dikapal itu ditemukan oleh kapten
kapal dan ditanyai kenepa ia ada dikapal itu, ia pun menjawab dengan jujur
bahwa ibunya telah memukul kepalanya sehinnga ia menganggap ibunya sudah tidak
menyayanginya lagi, untuk kembali tidak memungkinkan lagi maka oleh kapten
kapal ia di izinkan ikut berlayar setelah sembuh ia menjadi pelayan dikapal
itu, karena sifatnya yang baik. Akhirnya, ia bekera sebagai saudagar yang
memiliki kapal itu, setelah sekian lama bekerja dengan saudagar dan si anak
tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, sekian lama bekerja di negeri cina
ia menjadi kepercayaan sang saudagar bahkan karena si saudagar tadi tidak
memiliki keturunan maka akhirnya dia diangkat menjadi anak dan diberi nama
Kilin, tak terasa tahun demi tahun berlalu dan saudagar dan istrinya telah
wafat. Maka Kilin berniat untuk berlayar lagi untuk berdagang, maka ia pun
menghubungi kapten yang telah menyelamatkannya dulu dengan sukacita kapten ini
menyambut baik rencana Kilin maka mereka pun mulai mempersiapkan pelayarannya.
Setelah tiba saat yang tepat mereka pun berlayar dari negri ke negri, dari
pulau ke pulau dan dari laut ke laut serta mengarungi samudra sehingga sampailah
mereka ke tempat kampung si Kilin tadi berasal. saat mereka singgah ke kampung
ini terlihatlah oleh Kilin seorang wanita cantik yang membawa barang-barang
untuk ditukarkan pada barang barang yang dibawa kapal miliknya. Saat itupun ia
jatuh cinta pada wanita itu dan dengan segera ia pun melamarnya, wanita itu pun
menerim lamarannyanamun ia mengakui bahwa ia bukan gadis dan ia pernah menikah
sebelumnya, bagi anak muda yang sedang jatuh cinta hal ini bukanlah masalah
maka ia tetap pada pendirian hatinya sehingga akhimya mereka pun menikah.
Setelah menikah ia membawa wanita ini ke kapalnya, pada saat itu kapal besar
disebut dengan nama Banama oleh masyarakat dayak dan pemiliknya disebut Bandar.
Setelah berada di banama kedua pasangan ini pun bermesraan dan Kilin merebahkan
kepalanya dipangkuan wanita ini, sehingga wanita ini pun mengelus-elus kepala
Kilin dengan lembut. Saat mengelus kepala Kilin dia pun sebuah luka dikepalanya
dan secara spontan ditanyakannya hal ini kepada Kilin, Kilin pun lalu
menceritakan masa lalunya kepada wanita ini, saat itulah si wanita ini sangat
terkejut dengan wajah yang pucat ia berkata bahwa dirinya sendirilah ibunya
yang dimaksudkan Kilin, saat mendengar hal itu, tentu saja menolak hal ini
mentah-mentah dan menuduh wanita itu bohong, ia mengatakan tidak mungkin kalau
wanita itu ibunya karna kalau ibunya pastilh sudah tua, ibunya menjawab ia
tidak menjadi tua karena ia telah memohon kepada yang maha kuasa agar diberikan
umur yang panjang sehingga ia diberikan anugrah kecantikan yang tidak memudar
dengan cepat kilin menertawakan hal ini sehingga ia akhirnya mengucapkan sumpah
bila hal yang dikatakan wanita itu benar, biarlah dikutuk oleh yang maha kuasa.
Pada saat itu juga terjadilah malapetaka itu juga sehingga guntur sahut menyahut
terjadi dan huja disertai badai disaat matahari bersinar terang pun terjadi,
akhirnya karena kutukan kapal itu yang dimiliki kilin berubah menjadi batu dan
wanita yang ternyata ibunya akhirnya terjebak dalam batu itu, sedangkan para
awak kapal dan Kilin sendiri tidak diketahui dengan jelas. Konon ceritanya saat
kapal itu berubah menjadi batu ibunya yang terkurung didalamnya masihlah hidup.
LEGENDA RIAM
MANGKIKIT (SUNGAI KATINGAN)
Legenda
mangkikit terjadi dikalimantan tengah. Tepatnya disungai katingan, disitulah
ada sebuah jeram yang disebut riam mangkikit. Riam ini adalah yang terbesar
diantara riam lainnya dikalimantan tengah. Disitu ada sebuah tempat yang
disebut batu Tangudau. Batu ini demikian sebab kata orang dibawah batu itu
terdapat lubang ikan tangudau yaitu sejenis ikan hiu. Konon dikisahkan,
ditengah riam itu ada sebuah kampung kecil. Dikampung itu hanya ada sebuah
rumah betang dan lima buah rumah biasa. Pemimpin kampung itu seorang pemuda
yang gagah berani bernama Mangkikit. Walaupun masih tergolong muda, Mangkikit
disegani orang. Sifatnya yang agak pendiam, jujur, berani karena benar,
membuatnya lebih berwibawa. Sementara
istrinya yang bernama Nyai Endas adalah seorang perempuan yang sangat cantik.
Kecantikan Nyai Endas telah terkenal ke seluruh daerah. Banyak pemuda yang
sengaja bermalam dibetang dengan maksud sekedar ingin menyaksikan kecantikan
Nyai Endas. Lebih-lebih, hampir sepuluh tahun perkawinannya dengan mangkikit
belum juga dikaruniai putra. Walaupun dengan demikian, keduanya tetap hidup
bahagia, aman dan damai.
Sudah
menjadi kebiasaan setiap hari pagi-pagi sekali mangkikit akan pergi berburu.
Senjata beserta anaknya sejak sore kemaren sudah dipersiapkannya. Seperti
biasanya, jika merencanakan suatu perjalan, mangkikit selalau bangun pagi. Ia
menyiapkan makanan dan penginangan untuk bekalnya. Mangkikit sebelum berangkat,
ia berpesan kepada istrinya agar baik-baik tinggal dirumah. Kepada Dungak dan
Tambi Jongkong dipesankan pula hal yang sama. Kedua orang itu sudah sejak lama
dianggap anggota keluarganya sendiri. Malah Tambi Jongkong sendiri sudah
seperti inang pengasuh sejak Nyai Endas masih kecil.
Setelah
Mangkikit berangkat, penghuni betang itu asik dengan pekerjaannya
sendiri-sendiri. Dungak membelah kayu dibelakang. Tambi Jongkong memasak
didapur. Nyai Endas sendiri asik menganyam tikar rotan dikamar. Tiba-tiba
terdengar pintu dengan diketuk. Mendengar ketukan itu, Nyai Endas memanggil
Tambi Jongkong: Disuruhnya melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki tak
dikenal berdiri didepan pintu. Laki-laki itu tampan sekali, kumisnya tipis,
tubuhnya kekar, kulitnya putih kuning dan tampak bersih. Kain warna merah
melilit dikepalaya. Dipinggangnya tergantung mandau bergagang tanduk berjumbai
rambut, menambah kegagahannya. Lama perempuan tua itu terdiam. Ia tidak berani
menatao mata laki-laki itu terlalu lama. la baru sadar setelah laki-laki itu
menegurnya. "Mangkikit ada ?" tanyanya singkat. "Mangkikit pergi
berburu sejak pagi" jawab orang tua itu. "tetapi Nyai Endas, ada
?" tanyanya lagi. "oh, ada, silahkan masuk" sahutnya, seraya
berbalik memberi tahukan kedatangan orang itu. Mendengar hal itu, Nyai Endas
langsung keluar. Tambi Jongkong sempat melihat bahwa Nyai Endas tampak seperti
orang bingung melihat tamunya. Tidak lama kemudian, Nyai Endas masuk kedalam.
Digapainya Tambi Jongkong agar masuk kekamar. Sejenak kemudian, Tambi Jongkong
kedapur memanggil Dungak agar segera pulang. Tak berapa lama kemudian Dungak
pun muncul. Ditatapnya tamu itu dengan pandangan kurang senang. Mendengar
panggilan Nyai dri kamar, ia pun segera masuk. "kalian berdua dengar
kataku ini," ujar Nyai. "laki-laki itu memaksaku untuk mengikutinya.
Aku sadar bahwa aku sudah bersuami. Tetapi rasanya aku tidak dapat menolak
keinginannya." Secepat kilat, Dungak menyambar mandau pusaka yang
tergantung didinding setelah mendengar kata-kata Nyai Endas. Rupanya ia tidak
menerima perlakuan tamu itu. Namun dengan tangkas pula Nyai Endas menghalangi
maksud Dungak. Melihat kejadian itu Dungak mengalah, walaupun hatinya merasa
amat perih. "sekarang katakan kepada tuanmu bila ia sudah kembali
nanti," kata Nyai Endas. "akui Nyai Endas....,bagaimana pun aku tetap
mencintainya. Oleh sebab itu sekali lagi ku pesankan agar kamu menceritakan
kepada tuanmu dengan jujur. Aku minta jika aku telah keluar, ikuti aku dengan
matamu. Dengan demikian kamu tau arah kepergianku. Sekarang aku akan
mempersiapkan barang barangku." Kemudian Nyai Endas menyiapkan barang
bawaannya. Sebelum keluar kamar,
kembali ia berpesan sekirannya mangkikit suaminya ingin mencarinya, ikuti nanti
arah kepergiannya. Kemudian ia pun keluar bersama laki-laki itu dari betang,
mereka berdua turun kesungai. Dungak dan Tambi Jongkong yang mengawasi
kepergian Nyai Endas merasa kaget, kedua orang itu berjalan diatas air seperti
dijalan saja. menyaksikan peristiwa itu, Tambi Jongkong dan Dungak bergegas
lari ke betang. Diambilnya gong lalu dibunyikan berkali-kali. Penduduk yang
sedang bekerja diladang mendengar bunyi gong itu segera berlari pulang ke
kampung. Pasti ada kejadian yang luar biasa. Penduduk kampung gempar setelah
diberi tahu Dungak bahwa Nyai Endas diculik oleh laki-laki tak dikenal. Mereka
ngeri kalau Mangkikit mangamuk karena kejadian itu. Semua wanita dan anak-anak
dengan diam meninggalkan kampung itu. Mereka takut kalau nanti Mangkikit
mengamuk membabi buta. Yang tinggal sekarang hanyalah laki-laki dewasa. Tambi
Jongkong yang menangis terus tampaknya tinggal pasrah. Demikian pula halnya
dengan Dungak yang sejak tadi banyak diam.
Sementara
itu Mangkikit bergegas dalam perjalanan pulang, ia mendapat semacam firasat,
sesuatu yang luar biasa terjadi dikampung. Ia cepat-cepat pulang jalannya
dipercepat menjadi setengah berlari. Setibanya dibelakang betang, dilihatnya
banyak orang bergerombol. Apa gerangan yang terjadi, tanyanya dalam hati.
Dengan nafas terengah-engah, ia naik kebetang seraya bertanya, "ada apa
ini, apa yang tarjadi ?" tak seorangpun yang berani menjawab. Karena tidak
ada yang menjawab, Mangkikit menjadi marah. Dunguk pun tidak berani mengatakan
hal yang sebenarnya mengenai Nyai Endas sewaktu ditanya. Menyaksikan keadaan
seperti itu, seorang laki-laki tua tampil seraya berkata dengan suara lembut,
"anakku..., coba tenang sedikit. Sulit berbicara dengan keadaan seperti
ini." Katanya. Mangkikit pun sedikit mereda ketegangannya apa yang
sebenarnya terjadi, paman ?" tanyanya kepada orang tua itu. Orang tua itu
pun menceritakan seluruh kejadian itu tanpa ada satu pun yang tertinggal.
Mendengar penjelasan pamannya, mangkikit menghela nafas panjang. Penduduk
kampung ikut merasa lega karena ternyata Mangkikit tidak jadi marah. Mangkikit
hanya minta para kepala keluarga untuk datang kerumahnya nanti malam. Disana ia
akan memberitahukan rencana selanjutnya. Pada malam itu, kembali mereka
berkumpul Mangkikit menyarankan agar setiap keluarga menyiapkan tuak. Pada hari
kesembilan setelah itu, mereka akan berkumpul lagi. Mangkikit tidak menjelaskan
maksudnya, ia hanya berpesan agar mereka menyiapkan keperluan pesta. Akhirnya,
waktu yang ditetapkan itu tiba. Mangkikit memerintahkan agar pesta dimulai dari
rumah yang paling ujung bagian hulu. Sepuluh hari kemudian, tibalah giliran
terakhir dirumah betang Mangkikit. Sebelumnya Mangkikit berpesan agar hari
terakhir itu semuanya hadir. Sejak pagi mereka makan dan minim sepuas-puasnya.
Setelah semuanya selesai, mangkikit memerintahkan semua orang berkumpul di
tepian mandi sungai. Setelah semuanya lengkap, Mangkikit memerintahkan semua
kepala keluarga membakar rumahnya. Dalam sekejap, semua rumah dikampung itu
telah terbakar.
Setelah
semua berkumpul, Mangkikit berkata, "sekarang turunlah ke sungai, berjalan
dengan tenang menuju batu Tangudau. Ia menunjuk salah seorang untuk terjun ke
pusaran air itu dahulu. Jika mereka masih hidup agar dalam dunia yang baru itu
salaing menunggu. Setelah semua penduduk terjun Mangkikit pun menyusul.
Mangkikit pun melihat sebuah kampung yang bersih dan rapi. Ia mengisyaratkan
agar mereka menunggu dengan tenang. Dengan didampingi tiga orang laki-laki
pilihannya, ia memasuki kampung itu. Tidak kelihatan seorang pun penghuni
disana. Tidak jauh dari situ, dihalaman rumah besar dan bagus, tampak Nyai
Andas. Atas perintah Mangkikit, mereka berpencar mengepung rumah itu. Setelah
dekat benar, Mangkikit memberi isyarat kepada Nyai Endas. Istrinya mengatakan
bahwa laki-laki yang menculiknya masih tidur dikamar. Mangkikit mengikuti
istrinya masuk, secepat kilat Mangkikit mencabut dohong yang terselip
dipinggangnya, lalu membunuh laki-laki itu. Ketiga pengawal disuruh untuk
menjemput keluarganya yang menunggu diluar kampung itu.
Nyai
Endas pun bercerita bahwa kampung ini adalh tempat tinggal bangsa ikan
tangudau. Siang hari mereka semua pergi mencari makan. Itulah sebabnya tak ada
orang yang mereka temui pada siang hari. Sore hari mereka baru pulang.
Akhirnya, Mangkikit menjadi raja disana dan hidup dengan damai, aman, dan
tentram.
LEGENDA BATU
TUMBUNG DAN INGEI (BARAOI)
Dahulu
kala terdapat sebuah betang ditepi sungai samba sebelah kanan mudik. Betang
tersebut dihuni puluhan keluarga. Diantara keluarga tersebut terdapat pasangan
muda yang baru saja melangsungkan perkawinannya. Mereka adalah Tombong dan
istrinya Ingei. Suatu ketika dibetang itu dilaksanakan upacara balian. Upacara
ini dilakukan untuk melaksanakan pengobatan pada salah seorang warga betang itu
yang sakit keras. Di tengah betang dibuat sebuah sangkai puca. Sangkai puca ini
bahannya dari berbagai dahan kayu yang masih lengkap dengan daunnya, diikat
tegak seperti pohon kayu. Dahan kayu yang digunakan adalah pohon beringan
karena lambat layu daunnya lagi pula rimbun serta serasi. Setiap malam ramai
orang makan, minum, dan menari serta menyanyi karungut. Namun Tombong dan
istrinya yang tinggal dalam kamar yang palaing ujung tidak pernah mau keluar
dan ikut bagian dalam kegiatan tersebut. Pada suatu hari pagi-pagi sekali
Tombong sudah pergi untuk berburu. Kepada istrinya Tombong berkata, "Ingei
sepeninggalku pergi ini jangan sekali kali kamu keluar dari kamar. Tidak usah
kamu ikutbiar hanya melihat upacara itu." Pesan ini diucapkan Tombong
karena ia seorang pencemburu. Memang Ingei seorang wanita yang cukup rupawan.
Sepeninggal Tombong Ingei sangat penasaran. Diluar kamarnya terdengar sorak
sorai penuh kegembiraan, gong dan gendang bertalu-talu. Laki-laki perempuan,
tua muda ramai manasai mengelilingi sangkai pucu.
Pikir
ingei dalam hatinya, "aku mengira tak apalah jika aku melihat keramaian
itu." Ia hanya berniat untuk menonton sebentar saja dan sementara menunggu
Tombong pulang. Ternyata Ingei lupa pulang ke kamarnya, saking asiknya menonton
orang yang menasai itu. la tak tahu kalau Tombong cepat pulang denganhasil
buruannya seekor kalasi. Tombong sangat marah ketika mengetahui istrinya tidak
berada didalam kamar mereka. Ia menduga sudah pasti istrinya menonton upacara
balian itu. Dengan jengkel Tombong memberi pakaian bangkai kalasi itu. Dipakaikannya
cawat, baju sangkarut dan kopiah sampah angang. Tombong lalu menggendong
bangkai kalasi itu menuju ke tengah betang, saat ramainya orang manasai. Semua
orang heran melihat kelakuannya itu, tapi tidak ada seorang pun berani
menyapanya. Dilihatnya istrinya duduk diantara orang banyak dengan bengong
tanpa berani membuka mulut. Bangkai kalasi itu dilemparkannya ke atas sangkai
puca, lalu ia kembali kekamarnya. Orang banyak heran, bangkai kalasi itu hidup
kembali dan memanjat naik ke atas puncak sangkai puca orang pun ribut
menyaksikan kejadian itu. Sebagian ingin membunuhnya dan mengepungnya.
Tiba-tiba hari yang cerah berubah menjadi gelap pekat. Angin bertiup kencang,
kilat, dan petir manyambar-nyambar betang dan seluruh penghuninya berubah
menjadi gundukan batu besar. Hanya Ingei yang masih hidup, tetapi ia terkurung
dalam batu itu. Kelihatan batu itu seperti kamar, tanpa pintu dan hanya ada
sebuah lubang kecil sebesar lengan.
Beberapa
tahun berlalu setelah peristiwa itu. Jika terdengar suara orang melewati tempat
itu Ingei lalu mengulurkan tangannya meminta makanan. Kadang kala ia bersedia
menjahit pakaian orang-orang yang menolongnya asal menyediakan kainnya sendiri,
benang, dan jarumnya. Jahitan tangannya Ingei sangat halus dan rapi. Beberapa
kali orang telah mencoba untuk membantunya keluar dari lobang itu. Mereka
memahat lubang kecil itu memperbesarnya agar Ingei dapat keluar. Tapi mereka
keheranan batu iti bagai bernyawa. Setiap tercongkel sebuah bongkahan sebesar
itu pula bergerak menutupi bagian yang tercongkel tadi begitulah keadaannya
hingga lubang seperti besarnya semula. Seorang yang penasaran saking jengkelnya
lalu menusuk Ingei dengan sepotong kayu. Sejak saat itu tidak pernah terlihat
tangan Ingei keluar. Ia takut memperlihatkan dirinya dan tak mau lagi
berhubungan dengan orang lain. Apakah ia terluka dan meninggal dunia tak
seorang pun yang mengetahuinya. Sejak saat itu gundukan batu itu dinamai orang
Batu Lowang Ingei yang artinya Batu Lubang Ingei. Letaknya dihilir desa tumbang
jala, termasuk wilayah kecamatan sanaman mantikei kabupaten kotawaringin timur.
Kembali pada Tombong suami Ingei, ketika hari menjadi gelap ia pergi berkayuh
ke seberang sungai lalu berlari ke dalam rimba. Petir menyambar mengikutinya
berlari tanpa tujuan mencari tempat berlindung. Akhirnya ia sampai ditepi
sungai baraoi anak dari sungai samba. Ketika ia melompati sungai itu dengan
bermaksud menyebranginya pada saat itu pula petir menyambar tubuhnya yang
langsung berubah menjadi batu. Lalu jatuh ke sungai itu. Batu itulah yang
disebut orang Batu Tombong yang terdapat dekat desa tumbang baraoi sekarang
ini. Demikianlah cerita Batu Lowang Ingei.
LEGENDA PULAU
MALAN (TUMBANG BANJANG)
Dahulu
kala hiduplah tiga orang bersaudara. Yang tertua dan tengah adalah laki-laki
tengah masing-masing bernama Jangkan dan Range. Sedangkan si bungsu adalah
perempuan yang bernama Bungen Hewau yang terkenal dengan kecantikannya. Kabar
mengenai kecantikan Bungen Hewau tersebar dan menjadi buah bibir dimana-mana. Hingga
sampai terdengar oleh seorang dewa sakti yang bernama Nyahu Lentup yang kala
itu memiliki seorang putra yang belum beristri, bernama Mufakatlah Nyahu
Lentup.
Demi
mendengar perihal kecantikan Bungen Hewau, sang dewa mengutus seekor burung
untuk meminang si gadis yang tinggal di Kereng Mangging Tambarirai Hejem Batu
Tabruat. Tempat tersebut sekarang ini terdapat disebelah kiri mudik sungai
seruyan, tempatnya di hilir desa sukamandang. Sesampainya ditempat tersebut,
burung utusan dewa mampu memikat hati Bungen Hewau untuk dapat memeliharanya.
Bungen Hewau pun meminta kepada kedua kakaknya untuk dapat menangkap burung
tersebut. Namun, tidak mudah untuk menangkap burung yang memang utusan dewa
itu. Kelincahannya membuat burung itu susah ditangkap. Berupaya tanpa hasil
membuat kedua kakak Bungen Hewau emosi dan memukul burung tersebut hingga mati.
Matinya
burung utusan itu diketahui dan membuat sang dewa murka bukan main. Dewa pun
menurunkan bala ke kampung Bungen Hewau berupa asang tahi. Selama tiga tiga malam
seluruh kampung berserakan kotoran manusia dengan baunya yang sangat busuk dan
membuat Bungen Hewau selama itu tidak karuan makan. Tidak sampai di situ,
setelah asang tahi lenyap muncul serbuan asang sansaman. Bala itu juga turun
juga dalam waktu tiga hari dan dilanjutkan dengan asang penyengat selama tiga
hari itu juga. Menghadapi semua bala itu, ketiga bersaudara itu memutuskan
pergi dari kampung.
Mereka
pun sampai pada sebuah pulau yang terdapat goa mereka pun pergi kesana untuk
berteduh. Namun goa tersebut dihuni oleh banyak sekali kelalawar salah satu
dari kelalawar itu adalah rajanya. Karena pada jaman dahulu manusia dan hewan
masih mampu melakukan komunikasi. Sang raja kelalawar bertanya mengapa mereka
sampai disini. Mereka pun menceritakan awal kejadian mereka dapat sampai disini
sampai selesai. Karena mendengar penjelasan dari tiga orang manusia itu sang
raja kelalawar memperbolehkan mereka untuk tinggal sementara di dalam goa itu.
Namun keesokan harinya sang raja kelalawar akan mengantarkan mereka pada suatu
tempat. Keesokan harinya ketiga bersaudara tersebut melanjutkan perjalanan
menuju tempat yang dikatakan kelalawar tadi. Hingga hari kedelapan barulah
ketiga bersaudara barulah tiba di sungai banjang anak sungai katingan sebelah
kiri mudik yang sekarang ini desa tersebut bernama desa tumbang banjang.
Sesampainya tempatnya yang dimaksud mereka melihat ditengah-tengah danau
tersebut terdapat sebuah rumah. Dan mereka beranggapan bahwa rumah tersebutlah
yang dimaksud raja kelalawar akan tetapi, mereka tidak langsung kerumah
tersebut. Ketiganya memutuskan terlebih dahulu menetap ditepi sungai. Rumah
tersebut merupakan milik ibu Handang yang tinggal bersama anak laki-lakinya
yang bernama Hindang. Handang adalah sebuah Kuyang. (Makhluk Mistis berwujud kepala
tanpa badan, dengan isi perut yang masih melekat dengan kepala, biasanya
terbang dengan penampakan api)
Pada
suatu sore ketika Bungen Hewau pergi mandi ketepi sungai dan terdengarlah oleh
Handang. Begitu melihat Bungen Hewau Hindang langsung jatuh cinta. Ketika malam
tiba saat Bungen Hewau memandangi rumah tersebut dan melihat sebuah cahaya
hijau bagaikan meteor. Dengan tidak berkedip Bungen Hewau langsung pergi ke
pondok dan berkata kepada kedua kakaknya, "kak ternyata ibu Hindang adalah
kuyang."Sehingga kedua kakaknya berinisiatif untuk membacakan mantra
selisih (mantra untuk melindungi diri agae tidak terlihat oleh orang lain) agar
tidak diketahui oleh kedua penghuni rumah tersebut. Dengan mantra tersebut,
Hindang dan ibunya berusaha mencari ketiga bersaudara tersebut namun, tidak
ditemukan dan akhirnya Hindang beserta ibunya ditemukan meninggal dirumah
tersebut dan rumah tersebut kemudian ditumbuhi pohon hingga menyatu dan berubah
menjadi Pulau. Konon katanya Pulau tersebut selalu berpindah-pindah tempat
sehingga saat ini danau tersebut disebut Pulau Malan (Malan dalam bahasa
setempat artinya Berjalan). Demikianlah legenda Pulau Malan (Tumbang Banjang)
di Kecamatan Pulau Malan, Kabupaten Katingan.
Demikianlah
beberapa Legenda yang dapat kami bagikan dalam kesempatan ini, Semoga
Bermanfaat, dan Terimakasih Anda telah berkunjung. Salam Sehat !!
Bila
dalam penulisan terdapat kesalahan kami mohon maaf, dan disini kami bertujuan
untuk saling berbagi wawasan dan pengetahuan untuk kita bersama.