29 Desember 2020

LEGENDA/CERITA RAKYAT/SEJARAH DARI KALIMANTAN TENGAH

             


        Setiap daerah pastinya memiliki legenda atau sejarahnya masing-masing, termasuk salah satu daerah yaitu Kalimantan Tengah. Di Kalimantan Tengah sendiri ada banyak sekali Sejarah atau Legenda didalamnya. Berikut kami akan memaparkan beberapa Legenda atau Cerita Rakyat yang ada di Kalimantan Tengah diantaranya :

  1. Legenda Petak Malai (Baraoi)
  2. Legenda Sanaman Mantikei (Nusa Kuluk Riam Habambang)
  3. Legenda Batu Banama/Batu Mandi (Kasongan)
  4. Legenda Riam Mangkikit (Sungai Katingan)
  5. Legenda Batu Tumbung Dan Ingei (Baraoi)
  6. Legenda Pulau Malan (Tumbang Banjang)



LEGENDA PETAK MALAI (BARAOI)

            Legenda ini berasal dari daerah kabupaten Murung Raya atau Puruk Cahu tepatnya didaerah penduduk atau desa Tumbang Topus kecamatan sekarang untuk Murung dan di daerah penduduk kampung Talung Nyaling. Konon ceritanya tanah malai tolung lingu ini asal mulanya ada di tanah khayangan atau Danum Songiang. Ditanah khayangan telah hidup dua orang perempuan yang sangat cantik yang bernama Bura dan Santaki. ceritanya pada suatu hari, kedua perempuan cantik ini turun kedunia atau Anak Danum Kolunon untuk melihat dan mengamat-amati keadaan yang di Anak Danum Kolunon. Ketika sedang berjalan, kedua perempuan cantik ini melihat bahwa didunia atau Anak Danum Kolunon banyak sekali tempat-temat yang sepi tidak ada sama sekali penghununya. Sedang ketika kedua perempuan itu berjalan lagi ia melihat bahwa ada sekelompok manusia atau kolunon yang mendiami tempat tersebut. Dalam hati kedua perempuan cantik itu bertanya kenapa di dunia manusia banyak sekali tempat-tempat sunyi dan sepi tidak ada penghuninya. Maka, bersedihlah hati kedua perempuan yang bernama Bura dan Santaki itu. Ketika kembali lagi ke tanah khayangan, siang dan malam kedua perempuan itu merenungkan apa yang harus mereka perbuat supaya didunia tidak ada lagi tempat sepi yang tidak ada penghuninya. Setelah berhari-hari kedua perempuan cantik itu memutuskan untuk menurunkan Tana Malai Tolung Lingu atau Petak Malai Buluh Merindu kedunia atau Anak Danum Kolunon sebagai Songkolasan-Songkolimo Anak Kolunon di muka bumi atau Pindah Ondou. Konon ceritanya Tana Malai Tolung Lingu adalah benda keramat milik manusia di tanah Khayangan.

 

LEGENDA SANAMAN MANTIKEI (NUSA KULUK RIAM HABAMBANG)

            Dahulu kala didusun Kaleka Nusa Kuluk Riam Habambang, sebelah kiri mudik sungai Samba hiduplah satu keluarga petani. Petani itu mempunyai seorang anak laki-laki bernama Tinjau. Pada suatu hari Tinjau pergi untuk mengantarkan makanan kepada ibu bapaknya diladang. Ditengah jalan, sekonyong-konyong Tijau melihat seorang yang mirip ayahnya. Orang itu lalu mengajaknya berjalan kesuatu arah. Tinjau menurut saja, karna dirasanya tak salah mengikuti ayahnya sendiri mereka berdua berjalan terus hingga tiba pada sebuah jalan yang lebar dan bersih.

            Akhirnya sampai di sebuah betang. Didalamnya banyak orang berkumpul. Mereka lalu naik ke dalam betang itu. Seorang tetua dari sekalian itu berkata kepada orang yang mirip ayah Tinjau : "Dari mana kau dapat anak manusia ini ? bagaiman diketahuinya rahasia pekerjaan kita ini tak boleh dilihat mahluk lain, apalagi manusia." "anak ini kutemukan diujung jalan rumahku, sebelum mencapai jalan desa kita ini. Tiba-tiba saja ia terlihat olehku dan ia pun melihatku pula. Untunglah sempat ku ubah wajahku, menyamar jadi ayahnya. Mungkin ia mata-mata manusia yang ditugaskan mengintai pekerjaan kita. Aku bergegas hingga kubawa saja ia kemari. Terserah ketua mengambil tindakan padanya." Jawab orang yang mengajak Tinjau tadi.

            Ketua odari orang halus itu berkata lagi: "anak manusia ini jangan dibiarkan bebas begitu saja. nanti ia lari diceritakannya perihal segal perbuatan kita. Coba tutup ia dengan gerantung (gong) besar." Tinjau lalu disekap dibawah sebuah gerantung. Ia menyadari bahwa dirinya diculik mahlik halus. Untung saja papan lantai dibawah gerantung tidak rata. Kalau tidak ia bisa mati lemas kehabisan napas setelah Tinjau disekap mulailah itu mereka berunding mengatur pembagian kerja pada esok hari yakni membuat peralatan melebur batu menjadi sanaman mantikei (besi sejati atau murni).

            Orang tuanya heran mengapa hari ini Tinjau tidak datang mengantar makanan seperti biasanya. Merasa lapar keduanya terpaksa pulang kerumah. Ternyata Tinjau tidak ada disana. Seluruh keluarga dan orang sekampung turut mencari kesana kemari. Tetapi, semuanya sia-sia saja. Tinjau hilang bagai ditelan bumi. Bermacam dugaan mereka lontarkan.

“Apakah kau lihat segala perbuatan kami ?" tanya ketua mereka. Memang Tinjau seorang anak yang cerdik, ia lalu menyahut : "iya saya lihat semua perbuatan kalian dengan jelas" Ketua mahluk halus itu berkata "kalau begitu coba tutup dia dengan rakung". Tinjau lalu ditutup mereka dengan rakung. "oh" Kata tinjau, "jangan tutup aku dengan rakung sebab dapat kulihat perbuatan kalian." "kalau begitu coba dengan pangalau agar ia tidak melihat pekerjaan kita", kata ketua hantu itu.

Tijau berteriak : "ampun ! janganlah kalian tutup aku dengan pangalau ini. Aku menjadi buta dan tuli sama sekali," mahluk-mahluk halus itu tertawa terbahak-bahak gembira. sebab Tinjau tak dapat melihat segala perbuatan mereka. Alat yang mereka buat itu adalah alat sebagai mana yang masih dipergunakan pandai besi tradisional hingga kini di daerah kalimantan tengah.

            Menurut pendapat mereka untuk mempercepat peleburan batu menjadi besi itu sekeliling baknya dipajangkan tiga buah patung dari tanah liat dengan bentuk tertentu. Kepala berbentuk ikan, ekornya harus berbentuk kerbau. Kalau kepalanya bunglon, ekornya harus berbentuk ikan serta bila kepalanya babi ekornya mesti berbentuk buaya.

            Dari percakapan mereka terdapat beberapa persyaratan dalam pekerjaan itu antara lain tidak boleh dilihat atau ditegur kaum wanita, berolok-olok atau berbicara kotor dan bertengkar. Selain itu, harus dekat dengan air dan ada dahan kayu yang sedang tingginya. Dua syarat terakhir adalah erat kaitannya dengan teknis peralatan. Mengenai jenis batuannya adalah batuan yang ada didalam tanah. Tiga hari tiga malam Tinjau memperhatikan kerja mereka itu mulai dari memebuat peralatannya, melebur batuan menjadi besi serta menempanya menjadi senjata dan peralatan. Saking sibuknya mereka bekerja, sampai lupa kepada Tinjau. Hingga dapatlah ia melepaskan dirinya pulang kerumah. Gembiralah keluarganya serta seisi kampung dengan kepulangan Tinjau. Mereka tercengang mendengar ceritanya, apalagi menyangkut pengolahan besi pada masa itu oleh orang. Beberapa tahun kemudian Tinjau mengajak keluarganya mengerjakan Sanaman Mantikei seperti dilihatnya dikampung mahluk halus dahulu. Mereka mengerjakannya lebih baik sebab peralatannya cukup sempurna dengan hasil yang memuaskan pula.

            Bekas pengolahan Sanaman Mantikei disebelah kanan mudik sungai mantikei, sungai manten, dan kaleka nusa kuluk riam habambang. Sanaman mantikei memiliki sifat yang lebih lunak dan tajam senjata yang dibuat dari bahan ini mudah dibengkokkan. Batuan yang mengandung sanaman mantikei hanya dijumpai disungai mantikei, mencarinya dengan jalan digali dari dalam tanah. Karna terkenalnya besi ini, hingga sekarang daerah sepanjang sungai samba dinamakan kecamatan sanaman mantikei.

 

LEGENDA BATU BANAMA/BATU MANDI (KASONGAN)

            Pada masa lampau pulau borneo merupakan bagian dari lautan dan masa lalu daratannya hanya sedikit yaitu daerah tengah dan daerah timur pulau borneo pulau sekarang saat itu bukit tangkiling termasuk wilayah daratan sehingga disitu menjadi sebuah kampung di kampung itu hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya suaminya sudah meninggal ibu ini dikenal dengan bawi kuwu(seörang wanita yang cantik dan awet muda)disuatu hari ibu sedang memasak nasi goreng yang digoreng tanpa minyak (bari sanga)saat si ibu sedang memasak ternyata si anak ini terus mendesak ibunya supaya cepat dihidangkan karena si anak merasa lapar,ibu mencoba bersabar tetapi si anak malah semakin merengek rengek tidak karuan maka habislah kesabaran si ibu ini tanpa sengaja ia pun mengayunkan solet(suruk:alat buat menggoreng)kebagian kepala anaknya sesaat setelah dia tersadar ternyata dikepala anaknya telah mengalir darah segar sehingga si anak ini menjadi panik dan marah. Dalam sekejap si anak berlari keluar dari rumah dia merasa ibunya tidak lagi menyayangi dirinya, ibunya berusaha mengejar tetapi si anak sehingga berlari ke sebuah dermaga. Didermaga itu terdapat sebuah kapal yang sedang singgah, kapal ini berasal dari negri cina sedang singgah untuk menjual keramik di kampung itu dan si anak bersembunyi dibagian bawah kapal itu. Ibunya berusaha mencari ke suluruh penjuru kampung tapi tidak dapat menemukan anaknya. Dia menyesali dirinya karena telah memukul kepala anaknya, dia pun merenungi perbuatannya itu. Lalu tak lama setelah bongkar muat didermaga diselesaikan maka kapal cina itu akhirnya melepas jauh dan kembali berlayar kenegri cina. Singkat cerita sianak yang tadi bersembunyi dikapal itu ditemukan oleh kapten kapal dan ditanyai kenepa ia ada dikapal itu, ia pun menjawab dengan jujur bahwa ibunya telah memukul kepalanya sehinnga ia menganggap ibunya sudah tidak menyayanginya lagi, untuk kembali tidak memungkinkan lagi maka oleh kapten kapal ia di izinkan ikut berlayar setelah sembuh ia menjadi pelayan dikapal itu, karena sifatnya yang baik. Akhirnya, ia bekera sebagai saudagar yang memiliki kapal itu, setelah sekian lama bekerja dengan saudagar dan si anak tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, sekian lama bekerja di negeri cina ia menjadi kepercayaan sang saudagar bahkan karena si saudagar tadi tidak memiliki keturunan maka akhirnya dia diangkat menjadi anak dan diberi nama Kilin, tak terasa tahun demi tahun berlalu dan saudagar dan istrinya telah wafat. Maka Kilin berniat untuk berlayar lagi untuk berdagang, maka ia pun menghubungi kapten yang telah menyelamatkannya dulu dengan sukacita kapten ini menyambut baik rencana Kilin maka mereka pun mulai mempersiapkan pelayarannya. Setelah tiba saat yang tepat mereka pun berlayar dari negri ke negri, dari pulau ke pulau dan dari laut ke laut serta mengarungi samudra sehingga sampailah mereka ke tempat kampung si Kilin tadi berasal. saat mereka singgah ke kampung ini terlihatlah oleh Kilin seorang wanita cantik yang membawa barang-barang untuk ditukarkan pada barang barang yang dibawa kapal miliknya. Saat itupun ia jatuh cinta pada wanita itu dan dengan segera ia pun melamarnya, wanita itu pun menerim lamarannyanamun ia mengakui bahwa ia bukan gadis dan ia pernah menikah sebelumnya, bagi anak muda yang sedang jatuh cinta hal ini bukanlah masalah maka ia tetap pada pendirian hatinya sehingga akhimya mereka pun menikah. Setelah menikah ia membawa wanita ini ke kapalnya, pada saat itu kapal besar disebut dengan nama Banama oleh masyarakat dayak dan pemiliknya disebut Bandar. Setelah berada di banama kedua pasangan ini pun bermesraan dan Kilin merebahkan kepalanya dipangkuan wanita ini, sehingga wanita ini pun mengelus-elus kepala Kilin dengan lembut. Saat mengelus kepala Kilin dia pun sebuah luka dikepalanya dan secara spontan ditanyakannya hal ini kepada Kilin, Kilin pun lalu menceritakan masa lalunya kepada wanita ini, saat itulah si wanita ini sangat terkejut dengan wajah yang pucat ia berkata bahwa dirinya sendirilah ibunya yang dimaksudkan Kilin, saat mendengar hal itu, tentu saja menolak hal ini mentah-mentah dan menuduh wanita itu bohong, ia mengatakan tidak mungkin kalau wanita itu ibunya karna kalau ibunya pastilh sudah tua, ibunya menjawab ia tidak menjadi tua karena ia telah memohon kepada yang maha kuasa agar diberikan umur yang panjang sehingga ia diberikan anugrah kecantikan yang tidak memudar dengan cepat kilin menertawakan hal ini sehingga ia akhirnya mengucapkan sumpah bila hal yang dikatakan wanita itu benar, biarlah dikutuk oleh yang maha kuasa. Pada saat itu juga terjadilah malapetaka itu juga sehingga guntur sahut menyahut terjadi dan huja disertai badai disaat matahari bersinar terang pun terjadi, akhirnya karena kutukan kapal itu yang dimiliki kilin berubah menjadi batu dan wanita yang ternyata ibunya akhirnya terjebak dalam batu itu, sedangkan para awak kapal dan Kilin sendiri tidak diketahui dengan jelas. Konon ceritanya saat kapal itu berubah menjadi batu ibunya yang terkurung didalamnya masihlah hidup.

 

LEGENDA RIAM MANGKIKIT (SUNGAI KATINGAN)

            Legenda mangkikit terjadi dikalimantan tengah. Tepatnya disungai katingan, disitulah ada sebuah jeram yang disebut riam mangkikit. Riam ini adalah yang terbesar diantara riam lainnya dikalimantan tengah. Disitu ada sebuah tempat yang disebut batu Tangudau. Batu ini demikian sebab kata orang dibawah batu itu terdapat lubang ikan tangudau yaitu sejenis ikan hiu. Konon dikisahkan, ditengah riam itu ada sebuah kampung kecil. Dikampung itu hanya ada sebuah rumah betang dan lima buah rumah biasa. Pemimpin kampung itu seorang pemuda yang gagah berani bernama Mangkikit. Walaupun masih tergolong muda, Mangkikit disegani orang. Sifatnya yang agak pendiam, jujur, berani karena benar, membuatnya lebih berwibawa.     Sementara istrinya yang bernama Nyai Endas adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Kecantikan Nyai Endas telah terkenal ke seluruh daerah. Banyak pemuda yang sengaja bermalam dibetang dengan maksud sekedar ingin menyaksikan kecantikan Nyai Endas. Lebih-lebih, hampir sepuluh tahun perkawinannya dengan mangkikit belum juga dikaruniai putra. Walaupun dengan demikian, keduanya tetap hidup bahagia, aman dan damai.

            Sudah menjadi kebiasaan setiap hari pagi-pagi sekali mangkikit akan pergi berburu. Senjata beserta anaknya sejak sore kemaren sudah dipersiapkannya. Seperti biasanya, jika merencanakan suatu perjalan, mangkikit selalau bangun pagi. Ia menyiapkan makanan dan penginangan untuk bekalnya. Mangkikit sebelum berangkat, ia berpesan kepada istrinya agar baik-baik tinggal dirumah. Kepada Dungak dan Tambi Jongkong dipesankan pula hal yang sama. Kedua orang itu sudah sejak lama dianggap anggota keluarganya sendiri. Malah Tambi Jongkong sendiri sudah seperti inang pengasuh sejak Nyai Endas masih kecil.

            Setelah Mangkikit berangkat, penghuni betang itu asik dengan pekerjaannya sendiri-sendiri. Dungak membelah kayu dibelakang. Tambi Jongkong memasak didapur. Nyai Endas sendiri asik menganyam tikar rotan dikamar. Tiba-tiba terdengar pintu dengan diketuk. Mendengar ketukan itu, Nyai Endas memanggil Tambi Jongkong: Disuruhnya melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki tak dikenal berdiri didepan pintu. Laki-laki itu tampan sekali, kumisnya tipis, tubuhnya kekar, kulitnya putih kuning dan tampak bersih. Kain warna merah melilit dikepalaya. Dipinggangnya tergantung mandau bergagang tanduk berjumbai rambut, menambah kegagahannya. Lama perempuan tua itu terdiam. Ia tidak berani menatao mata laki-laki itu terlalu lama. la baru sadar setelah laki-laki itu menegurnya. "Mangkikit ada ?" tanyanya singkat. "Mangkikit pergi berburu sejak pagi" jawab orang tua itu. "tetapi Nyai Endas, ada ?" tanyanya lagi. "oh, ada, silahkan masuk" sahutnya, seraya berbalik memberi tahukan kedatangan orang itu. Mendengar hal itu, Nyai Endas langsung keluar. Tambi Jongkong sempat melihat bahwa Nyai Endas tampak seperti orang bingung melihat tamunya. Tidak lama kemudian, Nyai Endas masuk kedalam. Digapainya Tambi Jongkong agar masuk kekamar. Sejenak kemudian, Tambi Jongkong kedapur memanggil Dungak agar segera pulang. Tak berapa lama kemudian Dungak pun muncul. Ditatapnya tamu itu dengan pandangan kurang senang. Mendengar panggilan Nyai dri kamar, ia pun segera masuk. "kalian berdua dengar kataku ini," ujar Nyai. "laki-laki itu memaksaku untuk mengikutinya. Aku sadar bahwa aku sudah bersuami. Tetapi rasanya aku tidak dapat menolak keinginannya." Secepat kilat, Dungak menyambar mandau pusaka yang tergantung didinding setelah mendengar kata-kata Nyai Endas. Rupanya ia tidak menerima perlakuan tamu itu. Namun dengan tangkas pula Nyai Endas menghalangi maksud Dungak. Melihat kejadian itu Dungak mengalah, walaupun hatinya merasa amat perih. "sekarang katakan kepada tuanmu bila ia sudah kembali nanti," kata Nyai Endas. "akui Nyai Endas....,bagaimana pun aku tetap mencintainya. Oleh sebab itu sekali lagi ku pesankan agar kamu menceritakan kepada tuanmu dengan jujur. Aku minta jika aku telah keluar, ikuti aku dengan matamu. Dengan demikian kamu tau arah kepergianku. Sekarang aku akan mempersiapkan barang barangku." Kemudian Nyai Endas menyiapkan barang bawaannya. Sebelum keluar kamar, kembali ia berpesan sekirannya mangkikit suaminya ingin mencarinya, ikuti nanti arah kepergiannya. Kemudian ia pun keluar bersama laki-laki itu dari betang, mereka berdua turun kesungai. Dungak dan Tambi Jongkong yang mengawasi kepergian Nyai Endas merasa kaget, kedua orang itu berjalan diatas air seperti dijalan saja. menyaksikan peristiwa itu, Tambi Jongkong dan Dungak bergegas lari ke betang. Diambilnya gong lalu dibunyikan berkali-kali. Penduduk yang sedang bekerja diladang mendengar bunyi gong itu segera berlari pulang ke kampung. Pasti ada kejadian yang luar biasa. Penduduk kampung gempar setelah diberi tahu Dungak bahwa Nyai Endas diculik oleh laki-laki tak dikenal. Mereka ngeri kalau Mangkikit mangamuk karena kejadian itu. Semua wanita dan anak-anak dengan diam meninggalkan kampung itu. Mereka takut kalau nanti Mangkikit mengamuk membabi buta. Yang tinggal sekarang hanyalah laki-laki dewasa. Tambi Jongkong yang menangis terus tampaknya tinggal pasrah. Demikian pula halnya dengan Dungak yang sejak tadi banyak diam.

            Sementara itu Mangkikit bergegas dalam perjalanan pulang, ia mendapat semacam firasat, sesuatu yang luar biasa terjadi dikampung. Ia cepat-cepat pulang jalannya dipercepat menjadi setengah berlari. Setibanya dibelakang betang, dilihatnya banyak orang bergerombol. Apa gerangan yang terjadi, tanyanya dalam hati. Dengan nafas terengah-engah, ia naik kebetang seraya bertanya, "ada apa ini, apa yang tarjadi ?" tak seorangpun yang berani menjawab. Karena tidak ada yang menjawab, Mangkikit menjadi marah. Dunguk pun tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya mengenai Nyai Endas sewaktu ditanya. Menyaksikan keadaan seperti itu, seorang laki-laki tua tampil seraya berkata dengan suara lembut, "anakku..., coba tenang sedikit. Sulit berbicara dengan keadaan seperti ini." Katanya. Mangkikit pun sedikit mereda ketegangannya apa yang sebenarnya terjadi, paman ?" tanyanya kepada orang tua itu. Orang tua itu pun menceritakan seluruh kejadian itu tanpa ada satu pun yang tertinggal. Mendengar penjelasan pamannya, mangkikit menghela nafas panjang. Penduduk kampung ikut merasa lega karena ternyata Mangkikit tidak jadi marah. Mangkikit hanya minta para kepala keluarga untuk datang kerumahnya nanti malam. Disana ia akan memberitahukan rencana selanjutnya. Pada malam itu, kembali mereka berkumpul Mangkikit menyarankan agar setiap keluarga menyiapkan tuak. Pada hari kesembilan setelah itu, mereka akan berkumpul lagi. Mangkikit tidak menjelaskan maksudnya, ia hanya berpesan agar mereka menyiapkan keperluan pesta. Akhirnya, waktu yang ditetapkan itu tiba. Mangkikit memerintahkan agar pesta dimulai dari rumah yang paling ujung bagian hulu. Sepuluh hari kemudian, tibalah giliran terakhir dirumah betang Mangkikit. Sebelumnya Mangkikit berpesan agar hari terakhir itu semuanya hadir. Sejak pagi mereka makan dan minim sepuas-puasnya. Setelah semuanya selesai, mangkikit memerintahkan semua orang berkumpul di tepian mandi sungai. Setelah semuanya lengkap, Mangkikit memerintahkan semua kepala keluarga membakar rumahnya. Dalam sekejap, semua rumah dikampung itu telah terbakar.

            Setelah semua berkumpul, Mangkikit berkata, "sekarang turunlah ke sungai, berjalan dengan tenang menuju batu Tangudau. Ia menunjuk salah seorang untuk terjun ke pusaran air itu dahulu. Jika mereka masih hidup agar dalam dunia yang baru itu salaing menunggu. Setelah semua penduduk terjun Mangkikit pun menyusul. Mangkikit pun melihat sebuah kampung yang bersih dan rapi. Ia mengisyaratkan agar mereka menunggu dengan tenang. Dengan didampingi tiga orang laki-laki pilihannya, ia memasuki kampung itu. Tidak kelihatan seorang pun penghuni disana. Tidak jauh dari situ, dihalaman rumah besar dan bagus, tampak Nyai Andas. Atas perintah Mangkikit, mereka berpencar mengepung rumah itu. Setelah dekat benar, Mangkikit memberi isyarat kepada Nyai Endas. Istrinya mengatakan bahwa laki-laki yang menculiknya masih tidur dikamar. Mangkikit mengikuti istrinya masuk, secepat kilat Mangkikit mencabut dohong yang terselip dipinggangnya, lalu membunuh laki-laki itu. Ketiga pengawal disuruh untuk menjemput keluarganya yang menunggu diluar kampung itu.

            Nyai Endas pun bercerita bahwa kampung ini adalh tempat tinggal bangsa ikan tangudau. Siang hari mereka semua pergi mencari makan. Itulah sebabnya tak ada orang yang mereka temui pada siang hari. Sore hari mereka baru pulang. Akhirnya, Mangkikit menjadi raja disana dan hidup dengan damai, aman, dan tentram.

 

LEGENDA BATU TUMBUNG DAN INGEI (BARAOI)

            Dahulu kala terdapat sebuah betang ditepi sungai samba sebelah kanan mudik. Betang tersebut dihuni puluhan keluarga. Diantara keluarga tersebut terdapat pasangan muda yang baru saja melangsungkan perkawinannya. Mereka adalah Tombong dan istrinya Ingei. Suatu ketika dibetang itu dilaksanakan upacara balian. Upacara ini dilakukan untuk melaksanakan pengobatan pada salah seorang warga betang itu yang sakit keras. Di tengah betang dibuat sebuah sangkai puca. Sangkai puca ini bahannya dari berbagai dahan kayu yang masih lengkap dengan daunnya, diikat tegak seperti pohon kayu. Dahan kayu yang digunakan adalah pohon beringan karena lambat layu daunnya lagi pula rimbun serta serasi. Setiap malam ramai orang makan, minum, dan menari serta menyanyi karungut. Namun Tombong dan istrinya yang tinggal dalam kamar yang palaing ujung tidak pernah mau keluar dan ikut bagian dalam kegiatan tersebut. Pada suatu hari pagi-pagi sekali Tombong sudah pergi untuk berburu. Kepada istrinya Tombong berkata, "Ingei sepeninggalku pergi ini jangan sekali kali kamu keluar dari kamar. Tidak usah kamu ikutbiar hanya melihat upacara itu." Pesan ini diucapkan Tombong karena ia seorang pencemburu. Memang Ingei seorang wanita yang cukup rupawan. Sepeninggal Tombong Ingei sangat penasaran. Diluar kamarnya terdengar sorak sorai penuh kegembiraan, gong dan gendang bertalu-talu. Laki-laki perempuan, tua muda ramai manasai mengelilingi sangkai pucu.

            Pikir ingei dalam hatinya, "aku mengira tak apalah jika aku melihat keramaian itu." Ia hanya berniat untuk menonton sebentar saja dan sementara menunggu Tombong pulang. Ternyata Ingei lupa pulang ke kamarnya, saking asiknya menonton orang yang menasai itu. la tak tahu kalau Tombong cepat pulang denganhasil buruannya seekor kalasi. Tombong sangat marah ketika mengetahui istrinya tidak berada didalam kamar mereka. Ia menduga sudah pasti istrinya menonton upacara balian itu. Dengan jengkel Tombong memberi pakaian bangkai kalasi itu. Dipakaikannya cawat, baju sangkarut dan kopiah sampah angang. Tombong lalu menggendong bangkai kalasi itu menuju ke tengah betang, saat ramainya orang manasai. Semua orang heran melihat kelakuannya itu, tapi tidak ada seorang pun berani menyapanya. Dilihatnya istrinya duduk diantara orang banyak dengan bengong tanpa berani membuka mulut. Bangkai kalasi itu dilemparkannya ke atas sangkai puca, lalu ia kembali kekamarnya. Orang banyak heran, bangkai kalasi itu hidup kembali dan memanjat naik ke atas puncak sangkai puca orang pun ribut menyaksikan kejadian itu. Sebagian ingin membunuhnya dan mengepungnya. Tiba-tiba hari yang cerah berubah menjadi gelap pekat. Angin bertiup kencang, kilat, dan petir manyambar-nyambar betang dan seluruh penghuninya berubah menjadi gundukan batu besar. Hanya Ingei yang masih hidup, tetapi ia terkurung dalam batu itu. Kelihatan batu itu seperti kamar, tanpa pintu dan hanya ada sebuah lubang kecil sebesar lengan.

            Beberapa tahun berlalu setelah peristiwa itu. Jika terdengar suara orang melewati tempat itu Ingei lalu mengulurkan tangannya meminta makanan. Kadang kala ia bersedia menjahit pakaian orang-orang yang menolongnya asal menyediakan kainnya sendiri, benang, dan jarumnya. Jahitan tangannya Ingei sangat halus dan rapi. Beberapa kali orang telah mencoba untuk membantunya keluar dari lobang itu. Mereka memahat lubang kecil itu memperbesarnya agar Ingei dapat keluar. Tapi mereka keheranan batu iti bagai bernyawa. Setiap tercongkel sebuah bongkahan sebesar itu pula bergerak menutupi bagian yang tercongkel tadi begitulah keadaannya hingga lubang seperti besarnya semula. Seorang yang penasaran saking jengkelnya lalu menusuk Ingei dengan sepotong kayu. Sejak saat itu tidak pernah terlihat tangan Ingei keluar. Ia takut memperlihatkan dirinya dan tak mau lagi berhubungan dengan orang lain. Apakah ia terluka dan meninggal dunia tak seorang pun yang mengetahuinya. Sejak saat itu gundukan batu itu dinamai orang Batu Lowang Ingei yang artinya Batu Lubang Ingei. Letaknya dihilir desa tumbang jala, termasuk wilayah kecamatan sanaman mantikei kabupaten kotawaringin timur. Kembali pada Tombong suami Ingei, ketika hari menjadi gelap ia pergi berkayuh ke seberang sungai lalu berlari ke dalam rimba. Petir menyambar mengikutinya berlari tanpa tujuan mencari tempat berlindung. Akhirnya ia sampai ditepi sungai baraoi anak dari sungai samba. Ketika ia melompati sungai itu dengan bermaksud menyebranginya pada saat itu pula petir menyambar tubuhnya yang langsung berubah menjadi batu. Lalu jatuh ke sungai itu. Batu itulah yang disebut orang Batu Tombong yang terdapat dekat desa tumbang baraoi sekarang ini. Demikianlah cerita Batu Lowang Ingei.

 

LEGENDA PULAU MALAN (TUMBANG BANJANG)

            Dahulu kala hiduplah tiga orang bersaudara. Yang tertua dan tengah adalah laki-laki tengah masing-masing bernama Jangkan dan Range. Sedangkan si bungsu adalah perempuan yang bernama Bungen Hewau yang terkenal dengan kecantikannya. Kabar mengenai kecantikan Bungen Hewau tersebar dan menjadi buah bibir dimana-mana. Hingga sampai terdengar oleh seorang dewa sakti yang bernama Nyahu Lentup yang kala itu memiliki seorang putra yang belum beristri, bernama Mufakatlah Nyahu Lentup.

            Demi mendengar perihal kecantikan Bungen Hewau, sang dewa mengutus seekor burung untuk meminang si gadis yang tinggal di Kereng Mangging Tambarirai Hejem Batu Tabruat. Tempat tersebut sekarang ini terdapat disebelah kiri mudik sungai seruyan, tempatnya di hilir desa sukamandang. Sesampainya ditempat tersebut, burung utusan dewa mampu memikat hati Bungen Hewau untuk dapat memeliharanya. Bungen Hewau pun meminta kepada kedua kakaknya untuk dapat menangkap burung tersebut. Namun, tidak mudah untuk menangkap burung yang memang utusan dewa itu. Kelincahannya membuat burung itu susah ditangkap. Berupaya tanpa hasil membuat kedua kakak Bungen Hewau emosi dan memukul burung tersebut hingga mati.

            Matinya burung utusan itu diketahui dan membuat sang dewa murka bukan main. Dewa pun menurunkan bala ke kampung Bungen Hewau berupa asang tahi. Selama tiga tiga malam seluruh kampung berserakan kotoran manusia dengan baunya yang sangat busuk dan membuat Bungen Hewau selama itu tidak karuan makan. Tidak sampai di situ, setelah asang tahi lenyap muncul serbuan asang sansaman. Bala itu juga turun juga dalam waktu tiga hari dan dilanjutkan dengan asang penyengat selama tiga hari itu juga. Menghadapi semua bala itu, ketiga bersaudara itu memutuskan pergi dari kampung.

            Mereka pun sampai pada sebuah pulau yang terdapat goa mereka pun pergi kesana untuk berteduh. Namun goa tersebut dihuni oleh banyak sekali kelalawar salah satu dari kelalawar itu adalah rajanya. Karena pada jaman dahulu manusia dan hewan masih mampu melakukan komunikasi. Sang raja kelalawar bertanya mengapa mereka sampai disini. Mereka pun menceritakan awal kejadian mereka dapat sampai disini sampai selesai. Karena mendengar penjelasan dari tiga orang manusia itu sang raja kelalawar memperbolehkan mereka untuk tinggal sementara di dalam goa itu. Namun keesokan harinya sang raja kelalawar akan mengantarkan mereka pada suatu tempat. Keesokan harinya ketiga bersaudara tersebut melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dikatakan kelalawar tadi. Hingga hari kedelapan barulah ketiga bersaudara barulah tiba di sungai banjang anak sungai katingan sebelah kiri mudik yang sekarang ini desa tersebut bernama desa tumbang banjang. Sesampainya tempatnya yang dimaksud mereka melihat ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah rumah. Dan mereka beranggapan bahwa rumah tersebutlah yang dimaksud raja kelalawar akan tetapi, mereka tidak langsung kerumah tersebut. Ketiganya memutuskan terlebih dahulu menetap ditepi sungai. Rumah tersebut merupakan milik ibu Handang yang tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Hindang. Handang adalah sebuah Kuyang. (Makhluk Mistis berwujud kepala tanpa badan, dengan isi perut yang masih melekat dengan kepala, biasanya terbang dengan penampakan api)

            Pada suatu sore ketika Bungen Hewau pergi mandi ketepi sungai dan terdengarlah oleh Handang. Begitu melihat Bungen Hewau Hindang langsung jatuh cinta. Ketika malam tiba saat Bungen Hewau memandangi rumah tersebut dan melihat sebuah cahaya hijau bagaikan meteor. Dengan tidak berkedip Bungen Hewau langsung pergi ke pondok dan berkata kepada kedua kakaknya, "kak ternyata ibu Hindang adalah kuyang."Sehingga kedua kakaknya berinisiatif untuk membacakan mantra selisih (mantra untuk melindungi diri agae tidak terlihat oleh orang lain) agar tidak diketahui oleh kedua penghuni rumah tersebut. Dengan mantra tersebut, Hindang dan ibunya berusaha mencari ketiga bersaudara tersebut namun, tidak ditemukan dan akhirnya Hindang beserta ibunya ditemukan meninggal dirumah tersebut dan rumah tersebut kemudian ditumbuhi pohon hingga menyatu dan berubah menjadi Pulau. Konon katanya Pulau tersebut selalu berpindah-pindah tempat sehingga saat ini danau tersebut disebut Pulau Malan (Malan dalam bahasa setempat artinya Berjalan). Demikianlah legenda Pulau Malan (Tumbang Banjang) di Kecamatan Pulau Malan, Kabupaten Katingan.

 

Demikianlah beberapa Legenda yang dapat kami bagikan dalam kesempatan ini, Semoga Bermanfaat, dan Terimakasih Anda telah berkunjung. Salam Sehat !!

Bila dalam penulisan terdapat kesalahan kami mohon maaf, dan disini kami bertujuan untuk saling berbagi wawasan dan pengetahuan untuk kita bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung, silahkan sampaikan Pesan dan Kritik/Saran Anda agar kita dapat berbagi dan belajar bersama untuk menjadi lebih baik.